Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Wednesday, April 3

di titik nadir

Aku teringat malam panjang itu ketika kamu dengan gaya khasmu itu bertanya kepadaku, "Kamu pernah merasa jatuh yang tak pernah sampai ke dasar?" Aku meresapi kalimatmu dan mencoba membayangkan. Seketika itu yang terbenak adalah minggu lalu ketika Dena keponakan kecilku merengek memintaku mengajaknya ke Dufan. Esoknya dia bilang dia menyesal karena muntah beberapa detik setelah kami naik wahana hysteria.
Aku masih mengingatnya sementara kamu bicara lagi, "Aku rasa aku sedang merasakannya."
Aku merasakan suaramu sedikit bergetar dan tanpa sadar tanganku membelai lembut rambutmu, pelan. Kamu kemudian memelukku dan aku membalasnya. Hening. Kemudian kurasakan kemeja yang kukenakan basah di bagian pundak. Kamu menangis tanpa suara. Kupererat pelukanku dan kurasakan tanganmu mencengkeram semakin kuat.
"Kemarin aku sempat berfikir untuk menerima lamaran Bayu saja." Kamu melepas pelukanku dan mengusap air mata di pipimu. Merah.
"Aku rasa hanya itu jalan satu-satunya. Kamu tahu?" katamu kemudian.
"Tidak. Lebih tepatnya aku tidak mau tahu."
"Kamu bahkan nggak berniat menikahiku!" katamu sedikit berteriak. Kamu mulai tak terkontrol. Aku harus sabar.
"Kamu nggak akan bisa menyelamatkan aku dari semua yang memuakkan ini. For sure, all you can do is nothing." Kamu tahu keheninganku selalu membuatmu semakin meracau. Aku mencoba mengatur emosiku sementara kemarahanmu memuncak. "Aku tak tahan lagi," katamu lalu berdiri, kamu hendak pergi.
"Sebaiknya kamu nggak usah berurusan denganku lagi. I am just a big trouble," kakimu melangkah.
Aku berdiri dan meraih tangan kirimu, mencegahmu. "Aku nggak pernah mengeluhkan apapun tentang kamu. Aku hanya ingin kamu tahu, seseorang ini ada dan mau melakukan apa saja denganmu. Nggak hanya saat kamu senang, nggak hanya ingin bersenang-senang. Mau semenderita apapun, seberat apapun, segila apapun itu, seseorang ini hanya ingin selalu bersama kamu."
Kamu meneteskan air mata lagi. Senyummu yang sangat manis terlihat di antaranya.

Tuesday, February 19

but love kills a fear

but you have no idea how much I care to you...

Saat kamu berteriak kencang karena tertarik pada sesuatu, aku sadar aku menyukaimu. Harimu sedang begitu menyedihkan dan kamu mulai menangis tersedu-sedu, saat itu aku tahu aku ingin memelukmu. Saat kamu bersama Josh lagi dan lagi, aku sadar yang kurasakan bukan sekedar suka lagi, tapi cinta.

* * *

Aku rasa aku akan mempertaruhkan segala resiko yang ada dan tak akan pernah menyesalinya. 

* * *

"Josh, sudahlah, relakan dia. Aku tahu seberapa banyak kau biarkan dia menangis karenamu." aku mengaduk hot latte-ku perlahan sambil berbicara. Josh belum memesan apapun. Matanya merah. Mungkinkah dia menangis?
"Kau gila. Aku mencintainya." Josh mulai merajuk. Tidak, Kara bilang Josh begitu jahat.
Hening beberapa saat, aku masih mencoba menemukan kalimat yang tepat. "Ikhlaskan dia bersamaku. Sekarang dia mencintaiku."
"Kau bohong. Kau kan sahabatnya! Kalian bersekongkol dengan mengarang semua ini, kan?"
Aku diam. Josh sepertinya mulai ngelantur.
"Kara sangat mencintaiku. Kami dua tahun lebih bersama. Tidak semudah itu. Lagipula, denganmu? Aku rasa kau bukan tipe Kara."
"Kalau kau begitu pintar, mengapa kau putuskan dia?"
"Aku tak pernah putus dengannya!"
"Aku akan menjaganya. Percaya saja padaku." kutinggalkan Josh beserta latte yang masih separuh namun telah begitu dingin. Tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.

* * *

Kusebut kebahagiaan tatkala mengetahui kau senang dan akulah alasan di balik semua itu.

* * *

Siang menjelang sore. Di rumah begitu riuh oleh suara para aunty bergosip serta teriakan balita-balita. Besok semua sanak saudara akan berkumpul di rumah Kara. Esok akan menjadi hari bahagia bagi kami. Aku sudah memulai rinduku pada Kara dan kuambil ponselku hendak meneleponnya. Tapi one message received: Kara. "Temui aku sekarang di tempat biasa."

...and how much I am hurt because of you.

Wednesday, February 13

...a fear of judgement

esok Nanta akan menikahiku.

Malam ini ruangan tamu dihiasi bunga-bunga serba putih, dengan meja panjang di tengahnya. Para kerabat sibuk berlalu lalang sementara aku tidak melakukan apa-apa. Beberapa anak berlarian sambil tertawa melengking. Baby pasangan Nada dan Galih menangis kencang. Aku hendak menghampirinya.

Tapi tangisannya tiba-tiba mengingatkanku pada sesuatu. Sekejab kemudian aku sudah mengirimkan pesan singkat pada Nanta: temui aku sekarang di tempat biasa.

* * *

"Ada apa?"
"Karena besok kita akan menikah, sebaiknya aku mengatakan sesuatu."
Nafasku tersenggal tapi aku berusaha tenang. Nanta melihat aku malah seperti kedinginan sehingga dia mengenakan baju hangatnya kepadaku.
"Kamu cantik." sahutnya begitu kami bertatapan. Nanta begitu sering memujiku. Ah, Nanta. Nanta.
"Nan... Aku pernah hamil dengan Josh."
Nanta nampak sangat terkejut. Aku membuang muka, melihat di hadapanku hamparan pantai di gelapnya malam. Beberapa perahu nelayan menjauhi pantai. Apa yang kulakukan?
Beberapa detik setelahnya hanya terdengar suara ombak memecah keheningan. Aku menoleh. Nanta masih terdiam dengan raut muka teduhnya. Air mukanya seperti menulis sesuatu. Yang ini aku tak bisa membaca. Mungkin huruf A, atau O? Ah, mengapa kau tak bicara saja?
"Ah, itu artinya kamu bohong juga ketika mengatakan kepadaku bahwa dia sudah tak mencintaimu lagi? Aku tahu benar lelaki brengsek itu masih mengharapkanmu. Bahkan setelah dua tahun."
"Tidak Nan, dia bilang dia telah benar-benar melupakanku ketika dia mulai mengencani Tasha."
"Kamu bodoh. Aku fikir kamu sudah mengetahui aku dengan benar. Aku bukan kamu yang lebih suka tidak mengetahui apa-apa." Nanta berbicara panjang lebar, tapi nadanya masih datar. Aku sadar Nanta sangat ahli dalam mengatur egonya.
"Nan aku sungguh-sungguh minta maaf..." air mataku mulai menetes dan aku mulai sesenggukan.
Nanta tak bergerak. Sebenarnya dia sangat tidak kuat melihatku menangis. Tapi kali ini dia tak memelukku.
"Apa kita akan batal menikah?" aku memegang tangan Nanta, menariknya untuk memelukku. Nanta tak menolak.

Suara ombak menghujam karang malam itu terdengar sangat pilu.

Tuesday, February 5

lie is just a fear

a girl like you will always be such a tragic part of me. 

Setelah dua tahun lebih berpisah aku rasa aku tak sebodoh lelaki-lelaki lain. Menemukan kekasih baru. Mungkin dua-tiga kali menidurinya. Menindihnya sementara di benaknya bukan gadis itu melainkan seseorang yang lain. Seseorang yang menyeruak dari setiap hela dua-tiga tahunmu hidup dan mengenalkanmu pada satu candu dunia sekaligus perih.

Tapi hari ini ponselku menderingkan lagu kita. Lagu yang masih menjadi most played di playlist-ku walaupun aku ingat tepat dua tahun lalu itu terakhir kali aku memutarnya.
"Bi..." suara yang sama menyambut tepat ketika aku mengangkat telepon.
Aku masih diam dan aku rasa aku masih membingungkan akan kubalas apa panggilan yang dua tahun lalu itu terdengar sangat membahagiakan bagiku, sementara terdengar suara lagi.
"Aku ketemu dia, dia yang kamu bilang mirip aku."
"Oh ya? Kamu mengenalinya?" suaraku terdengar berat.
"Iya, Bi. Dia menghampiri mejaku, menyapaku, dan tersenyum sangat manis."
Aku lagi-lagi terdiam.
"Bahkan Nanta bilang dia sungguh mirip aku, matanya, hidungnya, bentuk mukanya..." kamu pun menyebut nama suamimu di selanya.
"Hahahaha. Aku khawatir Nanta menghampiri meja yang salah karena awalnya aku sendirian." aku rasa aku sedang menikmati setiap getaran suaramu dari speaker ponselku sementara kamu mulai merasa tak didengar.
"Kamu dengar aku, Bi? Aku ingin menanyakan, apa benar kata orang karena dia mirip aku lalu kamu jatuh cinta padanya?"
"Kalau aku mencintainya, kami tidak akan berpisah." jawabku singkat. Kamu tentu mengetahui benar aku tak sepertimu yang pandai mengungkapkan sesuatu. Kemudian aku teringat sesuatu dan bicara lagi, "Oh ya, pesan singkat minggu lalu dan aku meracau itu, kau ingat? Aku sedang mabuk. Kalau Hannah dan Bram tahu hal itu, mereka akan mengacaukan semuanya. Mereka ingin aku benar-benar melupakanmu. Kau ingat setahun yang lalu ketika aku memulai hubungan baru dengan Tasha? Aku membohongimu dengan mengatakan aku telah benar-benar kehilangan perasaanku."
Call disconnected. Entah kamu mendengarnya atau tidak.

~ a girl like you will always be such a tragic part of me. titik dua tutup kurung.

Wednesday, January 9

chronophobia

"Aku suka sekali senja." kamu membuka pembicaraan. "Tanpa awan yang ingin jatuh oleh gravitasi bumi."
Aku melirikmu sekilas, kamu hendak membalas tatapanku tapi aku cepat-cepat memalingkan muka.
"Aku lebih suka pagi. Bukan senja yang mengingatkan kita untuk segera pulang karena hari akan segera beranjak malam."
"Kita tak perlu pulang, kamu tahu? Aku akan membawamu kemanapun kamu ingin pergi."
"Malam ini? Aku sedang tak ingin. Hmm. Setidaknya tak seingin malam kemarin."
"Ayolah. Aku ganti hutangku kepadamu semalam." beberapa detik aku terdiam sementara pikiranku berubah sepersekian detik lebih cepat. Aku ingin.
"Oke. Kamu bisa membawaku ke ....."
Aku ingin melanjutkan tapi kemudian dering handphone-mu menghentikanku. Kemudian perasaanku tak enak.
Kamu berbicara, tanpa berpindah tempat. Seharusnya aku bisa memasukkan apa yang aku dengar itu ke dalam otakku dan dengan cepat memahaminya. Tapi gagal. Rasanya tak terdengar apa-apa.
"Sayang, maaf, aku harus..." kamu berbicara panjang lebar sementara aku terdiam. Tanpa sadar aku sudah mengangguk tepat di saat kamu selesai berbicara. Kemudian kamu beranjak, membuka dompet dan mengeluarkan selembar uang seratus ribu, kemudian dengan cepat kamu hilang dari penglihatanku.

* * *

Aku tak terlalu cerdas untuk berkeinginan pergi dari tempat itu juga seperti apa yang telah kamu lakukan. Sudah tiga jam sementara pelayan-pelayan cafe mulai berbisik-bisik sambil melihat ke arahku.
Handphone menjerit-jerit entah sudah yang keberapa. Bergantian dari line satu ke lainnya. Menelefon tanpa jeda ke semua ponselku ratusan kali? Itu keahlianmu.

* * *

Itu tepat pukul delapan malam ketika kamu datang lagi. Duduk di tempat yang sama. Air muka yang sudah sebulan lebih tak kulihat. Pedih.
Kurasa kamu sudah mengucapkan sekiranya sepuluh kalimat tanpa satupun berbalas. Aku mulai mengangkat muka dan berbicara, "Kamu tahu, sebenarnya bukan Galang yang merenggut keperawananku. Jauh sebelum mengenalmu aku telah terjatuh begitu dalamnya kepada seseorang. Dia bilang dia akan memutuskan hubungannya dengan kekasihnya kalau aku mau tidur dengannya. Tapi mereka tak pernah berpisah. Sampai aku mengetahui darimu, tepat kemarin, mereka telah berpisah."
Raut mukamu nampak marah dan mulai bicara lagi, "Jangan bilang. Tolong jangan bilang lelaki itu adikku."
"Iya, adikmu. Karena aku telah membohongimu setahun ini, sebaiknya kita berpisah saja."

Aku rasa hari itu senja lebih indah dibanding pagi dan malammu.

Tuesday, December 18

athazagoraphobia

"Kamu tahu, kebiasaan itu susah dihilangkan," aku membuka pembicaraan setelah lama kita terdiam. Senja itu hujan turun deras sekali dan kita tengah dalam perjalanan pulang dari apa yang kamu sebut melarikan diri.
"Yang ini tentang apa?" kamu berbicara tanpa menoleh. Klakson mobilmu tak berbunyi sementara beberapa pengemudi sepeda motor menyetir dengan gila.
 "Itu, ..." aku berkata sambil menyebut nama mantan kekasihmu, kira-kira semenit sesudahnya. "Maksudku, kamu hidup bersamanya lebih dari dua tahun, dan bagaimana?"
"Bagaimana apa?"
Lagi-lagi aku menghela nafas. Kamu mulai curang lagi.
"Ya itu, bagaimana setelahnya? Kamu mencuci cangkir bekas kopi pagimu sendiri? Kamu tak tahu kepada siapa harus bercerita kegiatanmu sepanjang hari? Atau kamu bingung memulai dari mana ketika teman kantormu bertanya kemana dia pergi membawa calon bayimu?"
Kamu mengerem mendadak dan aku hampir muntah pusing karenanya. Tapi tak bergeming. Aku rasa kamu pun mengukur jarak antar mobilmu dan truk pertamina itu tak lebih dari 50centi.
"Kamu tahu dia kehilangan bayinya. Bayi kami. Lalu akan kamu suruh aku terus bersamanya ketika aku tak lagi mencintainya?" nada bicaramu tetap datar. Padahal kamu tahu benar aku terbakar.
"Aku tidak tega. Aku bilang aku akan tetap bersamanya walau kami tak lagi seatap. Aku masih menelfonnya setiap hari. Lalu setiap 3 hari. Lalu setiap minggu. Lalu sebulan. Lalu...."
"Kamu tak pernah menelfonnya lagi?" sahutku.
Kamu mengiyakan. Aku menoleh ke luar mobil. Hujan masih turun sangat deras. Jalanan dibuat sedikit macet karenanya.
"Kamu bilang, kamu sudah nggak mencintainya lagi?" aku bicara lagi. Kali ini dengan lirih. Aku sudah tahu. Tapi selalu begitu.
"Aku nggak bilang." jawabmu.
Mendung mulai pudar ketika kita hampir sampai di kota. Lampu jalan berpenjar dan aku fikir aku mulai mengantuk. Kamu benar-benar. Maksudku. Aku fikir kamu membiarkan dia membunuh anak kalian dan terus menerus berharap. Ah...
 "Nanti aku juga akan mengasihanimu." ujarku dan mobilmu masih terus menembus petang.

Sunday, May 27

menuju pertemuan kedelapan - pengakuan

"Ini anakku," Andita berbicara, enteng. Dera menatap bocah laki-laki kecil itu, tajam.
"Umur berapa dia?" katanya sambil memalingkan muka dari sosok kecil nan lucu itu.
"Tanggal 20 kemarin dia tepat berumur satu tahun. Ngomong-ngomong, dia anakmu."

* * *

Brakkk. Suara pintu dibanting. Dera mengikutiku masuk dan mencengkeram tanganku. Agak kasar.
"Mama tahu! Itu anak Dera, Ma!"
"Kamu nggak usah membentak Mama." kataku sambil melepaskan tangannya. Sakit. "Kalau anak itu benar anakmu, kenapa wanita jalang itu menikahi lelaki lain?? Hah!" bentakku, ikut terbawa emosi.
"Dera nggak mau tahu, besok Dera akan meminta suami Andita menceraikannya."

* * *

"Sekarang bagaimana, Mas?" kamu baru pulang dari kantor. Aku menceritakan semuanya. Awalnya kamu nampak kaget. Namun kemudian raut mukamu melunak.
"Kamu seharusnya sudah memperkirakan ini."
"Tapi gadis itu gila, Mas! Dia sudah menikah!"
"Sudahlah, Jeng. Sudah. Cukup. Biarkan Dera memilih jalannya. Dia sudah dewasa." nada bicaramu lantang. Bahkan aku lupa kapan terakhir kamu berbicara seperti itu. Aku terdiam. Menangis.


seharusnya memang aku tahu, masa laluku bahkan bisa terbawa kepada anakku. Tuhan, apa ini karma?

Friday, May 25

pertemuan ketujuh

waktu itu kamu mabuk. aku juga. bukan alkohol yang sama sepertimu. tapi mabuk cinta. kamu menari-nari sambil meracau. itu sedikit menyebalkan. tapi aku masih mendengarkan.

22 tahun yang lalu, saya 16 tahun 
"Kamu juga menginginkan ini, kan, Jeng?" kamu berbicara dengan mata merah. Sebelum aku sempat menjawab kamu terus menciumi bibirku. Aku membalas.
"Kamu tahu aku mau melakukan apapun untuk kamu."

* * *

Mei 2012
"Dera?"
"Ndit?"
Aku menoleh. Oh, gadis ini. Lagi. Aku memegangi tangan Dera, kuat.
"Halo, Tante." Andita mengulurkan tangannya. Sekilas aku melihat sebuah cincin melingkar di jari manisnya.
"Wah... Kamu sudah menikah? Sudah Tante duga kamu wanita yang seperti itu. Hahaha...." tanpa membalas uluran tangannya aku meracau. Entah. Hanya itu yang keluar dari mulutku. Sesungguhnya aku sedikit merasa kecewa. Hanya seperti itu?
Andita tersenyum getir. Aku berlalu. Kulihat Dera masih di depan gadis itu dan menatapnya. Aku tahu. Aku tahu Dera masih mencintai Andita.

"Mamaaaaa...." seorang anak kecil berumur sekitar satu tahun berteriak, dan berlari memeluk Andita.


hei. siapa anak itu?

Friday, December 16

menuju pertemuan ketujuh - keputusan

aku ingat pertama kali kita bertemu, di stasiun. Kemudian menaiki kereta yang sama. Kamu bersama teman-temanmu, aku dengan Wulan. Beberapa detik saling berpandangan. Kamu bilang meninggalkan ingatan manis. Memoriku tak bergaris.

23 tahun yang lalu, saya 15 tahun
"Kamu tahu, Jeng, aku bisa melihat masa depan. Kamu mau aku meramalmu, hmm?"
Kamu berbicara sambil memegang tanganku, lalu membalik telapaknya, menelurusuri garis-garis tangan, itu kencan pertama kita.
"Di masa depan kamu menjadi ibu dari anakku."
Aku menatapmu dengan setengah terkejut, seketika pipiku memerah.
"Hanya kamu yang aku inginkan, bisakah kita berdua, bersama selamanya?"

* * *

"Aku nggak selingkuh, asal kamu tahu."
Andita membuka pembicaraan. Dera masih diam sementara raut mukanya mulai terlihat tak nyaman.
"Hanya aku nggak bisa membohongimu, kemarin dia menciumku, dan aku nggak menolak."
Dera masih terdiam walaupun terlihat api kemarahan membuncah dari wajahnya.
"Kamu ingin meninggalkan aku? Kamu punya hak ...."
"Diam!"
"Dera, aku mencintai kamu, hanya kamu."
Nafas Dera menderu, terbata dia berkata, "Nggak ada pilihan... Selain, meninggalkanmu, maaf."


Hei, iya, kamu benar. Ini yang terbaik. Biarkan seperti ini. Benci aku.
Hei, apa kamu benar-benar telah pergi? Iya kemudian kamu tak nampak lagi.

Lalu tumpahlah air mata dari pipi mungil Andita.

Tuesday, November 29

pertemuan keenam

dan semuanya semakin memburuk ketika kamu sadar seseorang yang selalu menjadi tempatmu bergantung seakan tak mampu lagi menjadi tempatmu bersandar. 

4 tahun yang lalu, saya 34 tahun
"Kamu dari mana saja, Mas? Kamu tahu kan hari ini Dera berulang tahun?"
"Manajer mengajakku makan malam tadi, dan dia berkata, besok aku tak perlu berangkat kerja lagi."
"Apa kamu bilang, Mas?"
"Semuanya memburuk. Padahal kemarin aku masih yakin posisiku tak akan goyah."
Aku lemas. Ambruk.

* * *

Berbulan-bulan lamanya kamu tak pernah keluar rumah. Kamu pintar. Sangat pintar bahkan. Ya, karena itu kamu bilang tak mungkin bekerja dengan gaji bahkan tak ada sepertiganya dari gaji pekerjaanmu sebelumnya.
Lalu aku dan ambisiku membawaku bekerja hampir 13 jam perhari, menjadi apapun, melakukan apapun. Hanya demi Dera.

* * *

Pertemuan keenam, restoran khas Italia
"Selalu cantik, setiap harinya." Dera memulai berbicara setelah menyilahkan Andita duduk.
"Mama akan takjub melihatmu." Dera melanjutkan bicara, berharap Andita tidak hanya diam. Tapi tak berhasil.
"Ma, Pa, di sini!" Dera setengah berteriak ketika melihat sepasang suami istri memasuki restoran.
Aku duduk, lalu kamu. Kamu tersenyum, Andita membalas.
"Tante nggak suka kamu berhubungan dengan Dera." kataku langsung. Kamu tersedak. Dera berteriak, "Mama!" Andita menatap dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu tahu? Seumur hidup Dera nggak pernah menentang Tante."
Hening. "Kamu cantik, carilah lelaki lain." Lalu arogansiku membawa kakiku melangkah. Pergi.

I don't want to see you. Again.
Then, who wins this game?

Friday, November 25

menuju pertemuan keenam

11 tahun yang lalu, saya 27 tahun 
"Mama jangan pergi. Mama nggak boleh pergi. Biar papa yang pergi. Dera benci papa."
"Papa benci Mama. Papa nggak ingin ketemu kita lagi. Besok kita pulang ke tempat Nenek."
Deraku. Menangis. Aku memeluknya. Bagi Dera ini bukan hal baru. Kalian saling membenci. Kamu dan Dera. Kalian pikir kalian jauh berbeda. Tapi aku tahu, bahkan kalian sangat sama. Dalam hal apapun.

* * *

"Jangan membawa Dera terlalu jauh dariku. Kamu tahu, Dera hidupku juga, bukan hanya kamu."
"Tahu apa kamu soal Dera, Mas? Dia hidup 7 bulan lebih dalam perutku! Kamu bahkan selalu menyalahkan dia. Kamu cemburu padanya, ya kan, Mas?"
Kamu membuka jendela mobil, mengambil karcis tol, angin panas memasuki mobil, agak berdebu. Dera kecilku, kelas 5 SD, tertidur pulas di jok belakang.
"Kamu berubah sejak Dera lahir. Kamu sadar?"
"Kamu juga, Mas. Kamu juga."

* * *

2010. Sejam setelah insiden Restoran Masakan Jepang
"Kamu melupakan semua janjimu pada Mama."
"Dera minta maaf, Ma. Dera mencintai...." Dera belum menyelesaikan perkataannya, tapi aku muak.
"Cukup. Dera pilih Mama atau gadis itu. Sekarang."
"Ma, Dera nggak bisa. Mama hidup Dera, Andita juga."
"Tahu apa kamu soal hidup? Mama setengah mati melahirkan kamu. Kamu tahu?"
"Kenapa Andita, Ma? Kenapa?"
"Nggak akan sampai di otak kamu, Mama bahkan nggak ngerti kenapa. Mama cuma nggak suka."

Why don't you understand?

Friday, November 18

pertemuan kelima

7 tahun yang lalu, saya 31 tahun
"Mama, kenapa Dera nggak boleh pergi? Dera ingin pergi. Ingin pergi sejak dua tahun yang lalu."
Aku tersentak, Dera kecilku kelas 3 SMP. Sejak dia balita aku sadar suatu saat akan ada masa-masa dimana dia akan menolak, menentang, membangkang.
"Dera sakit, Dera nggak boleh capek. Nanti kalau sudah besar Dera harus jadi dokter." Lalu aku memeluknya dan menyadari dia sedang menangis.
"Dera sayang Mama."

* * *

Pertengahan 2009
"Tadi siang Dera ke kantor..." Aku menoleh, berhenti membaca novel yang sedang kubaca. Kamu menghembuskan asap rokokmu, panjang. Aku mendengus.
"Lalu?"
"Dera membawa seorang gadis, cantik..."
Kamu diam sejenak, aku tak bicara. Tapi kamu tahu aku melotot. "Dera bilang sudah berpacaran satu tahun dengan gadis itu..."


* * *

Oktober 2010, di sebuah restoran masakan Jepang
"Mama, Dera ingin mama bertemu seseorang." Dera memelukku dari belakang.  Aku menoleh.
"An-ndi-ta?" kataku terbata-bata.
Gadis itu hanya diam, berdiri. Aku melihatnya mengenakan gaun panjang merah muda bermotif bunga dengan bolero putih berlengan panjang. Kuakui dia cantik. Dan tidak terbuka seperti awal-awal aku bertemu dengannya. Tapi melihatnya hanya membuat aku ingin muntah. Glek!
"Iya, Ma. Dera ingin Mama tahu Dera nggak pernah berpisah dengan Andita. Akhir tahun ini Dera ingin Mama dan Papa melamar Andita."
Rasanya duniaku runtuh saat itu juga.

Lalu membesarkanmu 21 tahun, mempertaruhkan hidupku dan semuanyapun berakhir hari ini.

Tuesday, November 15

pertemuan keempat

"Ndit!"
"Mau kemana? Ayo aku antar."
"Ndit?"
"Aku nggak mau ketemu ibumu lagi."
Dera diam, Andita masih berjalan sampai Dera mencengkeram tangan Andita, kasar.
"Kamu sadar kan? Dia nggak menyukaiku!"
PLAKKKK.
dan pipi Andita memerah. lalu basah. air mata.

dan saat Andita mencoba lari untuk yang kedua kalinya, Dera tak lagi mencegahnya.


* * *

Bukan salah Andita.
Bukan salahnya kalau dia tidak pandai menanak nasi, di samping kepandaiannya memasak berbagai masakan.
Bukan salahnya kalau dia begitu cantik, dan semua orang memujinya, kecuali, aku.
Bukan salahnya kalau dia dicintai Dera.
Entah itu anak Wulan, atau pacar Dera semasa dia SMU dan aku sangat-sangat menyukainya.
Tapi itu bukan salah siapa-siapa, kalau aku sangat-sangat-sangat membenci Andita.

* * *

Lalu ketika kita benar-benar tak ingin dipertemukan dengan seseorang, tiba-tiba saja orang itu telah ada di depan matamu.

April 2010, pertengahan
"Andita?"
"Tante?"
"Siapa dia?"
"Teman kampus, Tante, kebetulan kita ada bisnis bersama, itu toko kami."
"Oh, Tante kira pacar baru kamu."

Lalu aku masih tersenyum lebar melihat Andita dengan seorang lelaki dan tak sabar sampai ke rumah untuk menceritakannya kepada Dera.



Dan gadis itu menahan sesak ketika dia harus bertemu wanita yang membesarkan kekasihnya.
Dan masih harus bertemu secara sembunyi-sembunyi. Entah sampai kapan.

Monday, November 7

pertemuan ketiga

Idul Fitri tahun 2009
"Kenalin ini anakku, Dera, calon dokter, hihi."
"Oh jadi ini anak semata wayang yang selalu kamu ceritakan, Jeng? Dia tampan sekali," Dera menjabat tangan Wulan, senyum Dera selalu manis. Selalu. Aku lebih suka melihat senyum Dera dibanding senyummu.
"Aku ingin mengenal anak gadismu, Wulan. Kau membawanya?" Wulan hampir saja menjawab ketika aku melihat gadis itu, lagi-lagi gadis itu-- Andita melambai dari kejauhan, sejenak kemudian Dera berpamitan dan meninggalkan aku.

* * *

Entah darimana rasa benci itu datang. Bukan mulai hari ini. Tapi sejak awal aku tau Dera punya seorang gadis yang selalu ditelfonnya setiap malam. Bukan pertama kali aku bertemu dengannya. Tapi sejak aku sadar, Dera begitu mencintai gadis itu. Deraku. Deraku yang kecil. Tetaplah jadi Dera yang dulu. Bergonta-ganti pacar. Tak serius. Selalu ada untukku ketika kamu sibuk dengan duniamu sendiri.

* * *

Ulang tahun 38, akhir Februari 2010
"... There is never you in his life,"
Andita menangis. Kotak yang dibawanya jatuh. Suaranya gaduh. Sekejab kemudian aku melihatnya sudah berlari.
"Ndit!"
"Jangan kejar dia, jangan kejar dia, Dera. Tolong, kasihani Mama,"
Pestanya sudah berakhir. Sudah kacau. Tapi aku sadar Dera masih disampingku.




Di sana seorang gadis masih menangis.

Tuesday, November 1

pertemuan kedua

siang hari, di sebuah Mall
"Dera cerita banyak tentang Tante, Dera bilang Tante adalah Ibu paling hebat sedunia," Andita berbicara dengan mata berbinar, bibirnya penuh mayonnaise. Saya tak suka melihatnya.
"Oh ya? Dia nggak pernah berbicara tentang kamu..." kataku santai. Dia tersedak. "Kecuali betapa cantik dan pintarnya kamu," lanjutku, dengan senyum dipaksakan. Lagi-lagi dia tersenyum, lesung pipitnya terlihat jelas. Ya ya ya, sok imut, aku masih membatin ketika Dera muncul dari kejauhan. Mencium kening Andita, persis di depan mataku.

* * *

21 tahun yang lalu, saya 17 tahun
"Istri anda mengalami Eklampsia, Pak," kata Dokter itu kepadamu. Kamu meneteskan air matamu, pertama kalinya saya melihatmu menangis.
"Selamatkan keduanya, bisa kan? Saya bayar berapapun!" katamu, sesenggukan. Matamu masih menatap kakiku, yang membengkak tak senormal wanita hamil lainnya. Mataku berkunang-kunang, kata mereka aku habis kejang-kejang.
"Tekanan darahnya 200/110 mmHg, Dok,"
Kamu masih meracau. Sementara cairan merah dan hangat masih terus keluar dari rahimku. Lalu gelap.


I risked my whole life, bet for you. Better I'm dead before I give you birth and know everything's okay. I love you.

Monday, October 31

pertemuan pertama

Malam hari, usai makan malam
"Kamu mau dia seperti kita dulu, iya, Mas? Gadis itu bisa saja menggoda Dera!"
Kamu mendongak,  melempar bukumu ke meja, agak kasar.
"Kamu sadar nggak sih kamu terlalu mendominasi?"
Kami pun terdiam.

* * *

Sorenya
I love you Baby I do, I never found someone like you
"Ndit, udah siap? Aku jemput sekarang ya. Aku nggak sabar nemuin kamu dengan orangtuaku."
30 menit kemudian mobil Dera meluncur membawa Andita kerumahnya.

* * *


22 tahun yang lalu, saya 16 tahun
"Aku positif, Mas."
Kamu terkejut, bahkan kamu tersedak asap rokokmu sendiri.
"Aku akan bertanggung jawab," katamu santai, beberapa detik setelahnya, sambil meminum kopi terakhirmu.


Yes I love you so much so that I want the best for you, my son.