"Ini anakku," Andita berbicara, enteng. Dera menatap bocah laki-laki kecil itu, tajam.
"Umur berapa dia?" katanya sambil memalingkan muka dari sosok kecil nan lucu itu.
"Tanggal 20 kemarin dia tepat berumur satu tahun. Ngomong-ngomong, dia anakmu."
* * *
Brakkk. Suara pintu dibanting. Dera mengikutiku masuk dan mencengkeram tanganku. Agak kasar.
"Mama tahu! Itu anak Dera, Ma!"
"Kamu nggak usah membentak Mama." kataku sambil melepaskan tangannya. Sakit. "Kalau anak itu benar anakmu, kenapa wanita jalang itu menikahi lelaki lain?? Hah!" bentakku, ikut terbawa emosi.
"Dera nggak mau tahu, besok Dera akan meminta suami Andita menceraikannya."
* * *
"Sekarang bagaimana, Mas?" kamu baru pulang dari kantor. Aku menceritakan semuanya. Awalnya kamu nampak kaget. Namun kemudian raut mukamu melunak.
"Kamu seharusnya sudah memperkirakan ini."
"Tapi gadis itu gila, Mas! Dia sudah menikah!"
"Sudahlah, Jeng. Sudah. Cukup. Biarkan Dera memilih jalannya. Dia sudah dewasa." nada bicaramu lantang. Bahkan aku lupa kapan terakhir kamu berbicara seperti itu. Aku terdiam. Menangis.
seharusnya memang aku tahu, masa laluku bahkan bisa terbawa kepada anakku. Tuhan, apa ini karma?
Showing posts with label pertemuan series. Show all posts
Showing posts with label pertemuan series. Show all posts
Sunday, May 27
Friday, May 25
pertemuan ketujuh
waktu itu kamu mabuk. aku juga. bukan alkohol yang sama sepertimu. tapi mabuk cinta. kamu menari-nari sambil meracau. itu sedikit menyebalkan. tapi aku masih mendengarkan.
22 tahun yang lalu, saya 16 tahun
"Kamu juga menginginkan ini, kan, Jeng?" kamu berbicara dengan mata merah. Sebelum aku sempat menjawab kamu terus menciumi bibirku. Aku membalas.
"Kamu tahu aku mau melakukan apapun untuk kamu."
* * *
Mei 2012
"Dera?"
"Ndit?"
Aku menoleh. Oh, gadis ini. Lagi. Aku memegangi tangan Dera, kuat.
"Halo, Tante." Andita mengulurkan tangannya. Sekilas aku melihat sebuah cincin melingkar di jari manisnya.
"Wah... Kamu sudah menikah? Sudah Tante duga kamu wanita yang seperti itu. Hahaha...." tanpa membalas uluran tangannya aku meracau. Entah. Hanya itu yang keluar dari mulutku. Sesungguhnya aku sedikit merasa kecewa. Hanya seperti itu?
Andita tersenyum getir. Aku berlalu. Kulihat Dera masih di depan gadis itu dan menatapnya. Aku tahu. Aku tahu Dera masih mencintai Andita.
"Mamaaaaa...." seorang anak kecil berumur sekitar satu tahun berteriak, dan berlari memeluk Andita.
hei. siapa anak itu?
22 tahun yang lalu, saya 16 tahun
"Kamu juga menginginkan ini, kan, Jeng?" kamu berbicara dengan mata merah. Sebelum aku sempat menjawab kamu terus menciumi bibirku. Aku membalas.
"Kamu tahu aku mau melakukan apapun untuk kamu."
* * *
Mei 2012
"Dera?"
"Ndit?"
Aku menoleh. Oh, gadis ini. Lagi. Aku memegangi tangan Dera, kuat.
"Halo, Tante." Andita mengulurkan tangannya. Sekilas aku melihat sebuah cincin melingkar di jari manisnya.
"Wah... Kamu sudah menikah? Sudah Tante duga kamu wanita yang seperti itu. Hahaha...." tanpa membalas uluran tangannya aku meracau. Entah. Hanya itu yang keluar dari mulutku. Sesungguhnya aku sedikit merasa kecewa. Hanya seperti itu?
Andita tersenyum getir. Aku berlalu. Kulihat Dera masih di depan gadis itu dan menatapnya. Aku tahu. Aku tahu Dera masih mencintai Andita.
"Mamaaaaa...." seorang anak kecil berumur sekitar satu tahun berteriak, dan berlari memeluk Andita.
hei. siapa anak itu?
Friday, December 16
menuju pertemuan ketujuh - keputusan
aku ingat pertama kali kita bertemu, di stasiun. Kemudian menaiki kereta yang sama. Kamu bersama teman-temanmu, aku dengan Wulan. Beberapa detik saling berpandangan. Kamu bilang meninggalkan ingatan manis. Memoriku tak bergaris.
23 tahun yang lalu, saya 15 tahun
"Kamu tahu, Jeng, aku bisa melihat masa depan. Kamu mau aku meramalmu, hmm?"
Kamu berbicara sambil memegang tanganku, lalu membalik telapaknya, menelurusuri garis-garis tangan, itu kencan pertama kita.
"Di masa depan kamu menjadi ibu dari anakku."
Aku menatapmu dengan setengah terkejut, seketika pipiku memerah.
"Hanya kamu yang aku inginkan, bisakah kita berdua, bersama selamanya?"
* * *
"Aku nggak selingkuh, asal kamu tahu."
Andita membuka pembicaraan. Dera masih diam sementara raut mukanya mulai terlihat tak nyaman.
"Hanya aku nggak bisa membohongimu, kemarin dia menciumku, dan aku nggak menolak."
Dera masih terdiam walaupun terlihat api kemarahan membuncah dari wajahnya.
"Kamu ingin meninggalkan aku? Kamu punya hak ...."
"Diam!"
"Dera, aku mencintai kamu, hanya kamu."
Nafas Dera menderu, terbata dia berkata, "Nggak ada pilihan... Selain, meninggalkanmu, maaf."
Hei, iya, kamu benar. Ini yang terbaik. Biarkan seperti ini. Benci aku.
Hei, apa kamu benar-benar telah pergi? Iya kemudian kamu tak nampak lagi.
Lalu tumpahlah air mata dari pipi mungil Andita.
23 tahun yang lalu, saya 15 tahun
"Kamu tahu, Jeng, aku bisa melihat masa depan. Kamu mau aku meramalmu, hmm?"
Kamu berbicara sambil memegang tanganku, lalu membalik telapaknya, menelurusuri garis-garis tangan, itu kencan pertama kita.
"Di masa depan kamu menjadi ibu dari anakku."
Aku menatapmu dengan setengah terkejut, seketika pipiku memerah.
"Hanya kamu yang aku inginkan, bisakah kita berdua, bersama selamanya?"
* * *
"Aku nggak selingkuh, asal kamu tahu."
Andita membuka pembicaraan. Dera masih diam sementara raut mukanya mulai terlihat tak nyaman.
"Hanya aku nggak bisa membohongimu, kemarin dia menciumku, dan aku nggak menolak."
Dera masih terdiam walaupun terlihat api kemarahan membuncah dari wajahnya.
"Kamu ingin meninggalkan aku? Kamu punya hak ...."
"Diam!"
"Dera, aku mencintai kamu, hanya kamu."
Nafas Dera menderu, terbata dia berkata, "Nggak ada pilihan... Selain, meninggalkanmu, maaf."
Hei, iya, kamu benar. Ini yang terbaik. Biarkan seperti ini. Benci aku.
Hei, apa kamu benar-benar telah pergi? Iya kemudian kamu tak nampak lagi.
Lalu tumpahlah air mata dari pipi mungil Andita.
Tuesday, November 29
pertemuan keenam
dan semuanya semakin memburuk ketika kamu sadar seseorang yang selalu menjadi tempatmu bergantung seakan tak mampu lagi menjadi tempatmu bersandar.
4 tahun yang lalu, saya 34 tahun
"Kamu dari mana saja, Mas? Kamu tahu kan hari ini Dera berulang tahun?"
"Manajer mengajakku makan malam tadi, dan dia berkata, besok aku tak perlu berangkat kerja lagi."
"Apa kamu bilang, Mas?"
"Semuanya memburuk. Padahal kemarin aku masih yakin posisiku tak akan goyah."
Aku lemas. Ambruk.
* * *
Berbulan-bulan lamanya kamu tak pernah keluar rumah. Kamu pintar. Sangat pintar bahkan. Ya, karena itu kamu bilang tak mungkin bekerja dengan gaji bahkan tak ada sepertiganya dari gaji pekerjaanmu sebelumnya.
Lalu aku dan ambisiku membawaku bekerja hampir 13 jam perhari, menjadi apapun, melakukan apapun. Hanya demi Dera.
* * *
Pertemuan keenam, restoran khas Italia
"Selalu cantik, setiap harinya." Dera memulai berbicara setelah menyilahkan Andita duduk.
"Mama akan takjub melihatmu." Dera melanjutkan bicara, berharap Andita tidak hanya diam. Tapi tak berhasil.
"Ma, Pa, di sini!" Dera setengah berteriak ketika melihat sepasang suami istri memasuki restoran.
Aku duduk, lalu kamu. Kamu tersenyum, Andita membalas.
"Tante nggak suka kamu berhubungan dengan Dera." kataku langsung. Kamu tersedak. Dera berteriak, "Mama!" Andita menatap dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu tahu? Seumur hidup Dera nggak pernah menentang Tante."
Hening. "Kamu cantik, carilah lelaki lain." Lalu arogansiku membawa kakiku melangkah. Pergi.
I don't want to see you. Again.
Then, who wins this game?
4 tahun yang lalu, saya 34 tahun
"Kamu dari mana saja, Mas? Kamu tahu kan hari ini Dera berulang tahun?"
"Manajer mengajakku makan malam tadi, dan dia berkata, besok aku tak perlu berangkat kerja lagi."
"Apa kamu bilang, Mas?"
"Semuanya memburuk. Padahal kemarin aku masih yakin posisiku tak akan goyah."
Aku lemas. Ambruk.
* * *
Berbulan-bulan lamanya kamu tak pernah keluar rumah. Kamu pintar. Sangat pintar bahkan. Ya, karena itu kamu bilang tak mungkin bekerja dengan gaji bahkan tak ada sepertiganya dari gaji pekerjaanmu sebelumnya.
Lalu aku dan ambisiku membawaku bekerja hampir 13 jam perhari, menjadi apapun, melakukan apapun. Hanya demi Dera.
* * *
Pertemuan keenam, restoran khas Italia
"Selalu cantik, setiap harinya." Dera memulai berbicara setelah menyilahkan Andita duduk.
"Mama akan takjub melihatmu." Dera melanjutkan bicara, berharap Andita tidak hanya diam. Tapi tak berhasil.
"Ma, Pa, di sini!" Dera setengah berteriak ketika melihat sepasang suami istri memasuki restoran.
Aku duduk, lalu kamu. Kamu tersenyum, Andita membalas.
"Tante nggak suka kamu berhubungan dengan Dera." kataku langsung. Kamu tersedak. Dera berteriak, "Mama!" Andita menatap dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu tahu? Seumur hidup Dera nggak pernah menentang Tante."
Hening. "Kamu cantik, carilah lelaki lain." Lalu arogansiku membawa kakiku melangkah. Pergi.
I don't want to see you. Again.
Then, who wins this game?
Friday, November 25
menuju pertemuan keenam
11 tahun yang lalu, saya 27 tahun
"Mama jangan pergi. Mama nggak boleh pergi. Biar papa yang pergi. Dera benci papa."
"Papa benci Mama. Papa nggak ingin ketemu kita lagi. Besok kita pulang ke tempat Nenek."
Deraku. Menangis. Aku memeluknya. Bagi Dera ini bukan hal baru. Kalian saling membenci. Kamu dan Dera. Kalian pikir kalian jauh berbeda. Tapi aku tahu, bahkan kalian sangat sama. Dalam hal apapun.
* * *
"Jangan membawa Dera terlalu jauh dariku. Kamu tahu, Dera hidupku juga, bukan hanya kamu."
"Tahu apa kamu soal Dera, Mas? Dia hidup 7 bulan lebih dalam perutku! Kamu bahkan selalu menyalahkan dia. Kamu cemburu padanya, ya kan, Mas?"
Kamu membuka jendela mobil, mengambil karcis tol, angin panas memasuki mobil, agak berdebu. Dera kecilku, kelas 5 SD, tertidur pulas di jok belakang.
"Kamu berubah sejak Dera lahir. Kamu sadar?"
"Kamu juga, Mas. Kamu juga."
* * *
2010. Sejam setelah insiden Restoran Masakan Jepang
"Kamu melupakan semua janjimu pada Mama."
"Dera minta maaf, Ma. Dera mencintai...." Dera belum menyelesaikan perkataannya, tapi aku muak.
"Cukup. Dera pilih Mama atau gadis itu. Sekarang."
"Ma, Dera nggak bisa. Mama hidup Dera, Andita juga."
"Tahu apa kamu soal hidup? Mama setengah mati melahirkan kamu. Kamu tahu?"
"Kenapa Andita, Ma? Kenapa?"
"Nggak akan sampai di otak kamu, Mama bahkan nggak ngerti kenapa. Mama cuma nggak suka."
Why don't you understand?
"Mama jangan pergi. Mama nggak boleh pergi. Biar papa yang pergi. Dera benci papa."
"Papa benci Mama. Papa nggak ingin ketemu kita lagi. Besok kita pulang ke tempat Nenek."
Deraku. Menangis. Aku memeluknya. Bagi Dera ini bukan hal baru. Kalian saling membenci. Kamu dan Dera. Kalian pikir kalian jauh berbeda. Tapi aku tahu, bahkan kalian sangat sama. Dalam hal apapun.
* * *
"Jangan membawa Dera terlalu jauh dariku. Kamu tahu, Dera hidupku juga, bukan hanya kamu."
"Tahu apa kamu soal Dera, Mas? Dia hidup 7 bulan lebih dalam perutku! Kamu bahkan selalu menyalahkan dia. Kamu cemburu padanya, ya kan, Mas?"
Kamu membuka jendela mobil, mengambil karcis tol, angin panas memasuki mobil, agak berdebu. Dera kecilku, kelas 5 SD, tertidur pulas di jok belakang.
"Kamu berubah sejak Dera lahir. Kamu sadar?"
"Kamu juga, Mas. Kamu juga."
* * *
2010. Sejam setelah insiden Restoran Masakan Jepang
"Kamu melupakan semua janjimu pada Mama."
"Dera minta maaf, Ma. Dera mencintai...." Dera belum menyelesaikan perkataannya, tapi aku muak.
"Cukup. Dera pilih Mama atau gadis itu. Sekarang."
"Ma, Dera nggak bisa. Mama hidup Dera, Andita juga."
"Tahu apa kamu soal hidup? Mama setengah mati melahirkan kamu. Kamu tahu?"
"Kenapa Andita, Ma? Kenapa?"
"Nggak akan sampai di otak kamu, Mama bahkan nggak ngerti kenapa. Mama cuma nggak suka."
Why don't you understand?
Friday, November 18
pertemuan kelima
7 tahun yang lalu, saya 31 tahun
"Mama, kenapa Dera nggak boleh pergi? Dera ingin pergi. Ingin pergi sejak dua tahun yang lalu."
Aku tersentak, Dera kecilku kelas 3 SMP. Sejak dia balita aku sadar suatu saat akan ada masa-masa dimana dia akan menolak, menentang, membangkang.
"Dera sakit, Dera nggak boleh capek. Nanti kalau sudah besar Dera harus jadi dokter." Lalu aku memeluknya dan menyadari dia sedang menangis.
"Dera sayang Mama."
* * *
Pertengahan 2009
"Tadi siang Dera ke kantor..." Aku menoleh, berhenti membaca novel yang sedang kubaca. Kamu menghembuskan asap rokokmu, panjang. Aku mendengus.
"Lalu?"
"Dera membawa seorang gadis, cantik..."
Kamu diam sejenak, aku tak bicara. Tapi kamu tahu aku melotot. "Dera bilang sudah berpacaran satu tahun dengan gadis itu..."
* * *
Oktober 2010, di sebuah restoran masakan Jepang
"Mama, Dera ingin mama bertemu seseorang." Dera memelukku dari belakang. Aku menoleh.
"An-ndi-ta?" kataku terbata-bata.
Gadis itu hanya diam, berdiri. Aku melihatnya mengenakan gaun panjang merah muda bermotif bunga dengan bolero putih berlengan panjang. Kuakui dia cantik. Dan tidak terbuka seperti awal-awal aku bertemu dengannya. Tapi melihatnya hanya membuat aku ingin muntah. Glek!
"Iya, Ma. Dera ingin Mama tahu Dera nggak pernah berpisah dengan Andita. Akhir tahun ini Dera ingin Mama dan Papa melamar Andita."
Rasanya duniaku runtuh saat itu juga.
Lalu membesarkanmu 21 tahun, mempertaruhkan hidupku dan semuanyapun berakhir hari ini.
"Mama, kenapa Dera nggak boleh pergi? Dera ingin pergi. Ingin pergi sejak dua tahun yang lalu."
Aku tersentak, Dera kecilku kelas 3 SMP. Sejak dia balita aku sadar suatu saat akan ada masa-masa dimana dia akan menolak, menentang, membangkang.
"Dera sakit, Dera nggak boleh capek. Nanti kalau sudah besar Dera harus jadi dokter." Lalu aku memeluknya dan menyadari dia sedang menangis.
"Dera sayang Mama."
* * *
Pertengahan 2009
"Tadi siang Dera ke kantor..." Aku menoleh, berhenti membaca novel yang sedang kubaca. Kamu menghembuskan asap rokokmu, panjang. Aku mendengus.
"Lalu?"
"Dera membawa seorang gadis, cantik..."
Kamu diam sejenak, aku tak bicara. Tapi kamu tahu aku melotot. "Dera bilang sudah berpacaran satu tahun dengan gadis itu..."
* * *
Oktober 2010, di sebuah restoran masakan Jepang
"Mama, Dera ingin mama bertemu seseorang." Dera memelukku dari belakang. Aku menoleh.
"An-ndi-ta?" kataku terbata-bata.
Gadis itu hanya diam, berdiri. Aku melihatnya mengenakan gaun panjang merah muda bermotif bunga dengan bolero putih berlengan panjang. Kuakui dia cantik. Dan tidak terbuka seperti awal-awal aku bertemu dengannya. Tapi melihatnya hanya membuat aku ingin muntah. Glek!
"Iya, Ma. Dera ingin Mama tahu Dera nggak pernah berpisah dengan Andita. Akhir tahun ini Dera ingin Mama dan Papa melamar Andita."
Rasanya duniaku runtuh saat itu juga.
Lalu membesarkanmu 21 tahun, mempertaruhkan hidupku dan semuanyapun berakhir hari ini.
Tuesday, November 15
pertemuan keempat
"Ndit!"
"Mau kemana? Ayo aku antar."
"Ndit?"
"Aku nggak mau ketemu ibumu lagi."
Dera diam, Andita masih berjalan sampai Dera mencengkeram tangan Andita, kasar.
"Kamu sadar kan? Dia nggak menyukaiku!"
PLAKKKK.
dan pipi Andita memerah. lalu basah. air mata.
dan saat Andita mencoba lari untuk yang kedua kalinya, Dera tak lagi mencegahnya.
* * *
Bukan salah Andita.
Bukan salahnya kalau dia tidak pandai menanak nasi, di samping kepandaiannya memasak berbagai masakan.
Bukan salahnya kalau dia begitu cantik, dan semua orang memujinya, kecuali, aku.
Bukan salahnya kalau dia dicintai Dera.
Entah itu anak Wulan, atau pacar Dera semasa dia SMU dan aku sangat-sangat menyukainya.
Tapi itu bukan salah siapa-siapa, kalau aku sangat-sangat-sangat membenci Andita.
* * *
Lalu ketika kita benar-benar tak ingin dipertemukan dengan seseorang, tiba-tiba saja orang itu telah ada di depan matamu.
April 2010, pertengahan
"Andita?"
"Tante?"
"Siapa dia?"
"Teman kampus, Tante, kebetulan kita ada bisnis bersama, itu toko kami."
"Oh, Tante kira pacar baru kamu."
Lalu aku masih tersenyum lebar melihat Andita dengan seorang lelaki dan tak sabar sampai ke rumah untuk menceritakannya kepada Dera.
Dan gadis itu menahan sesak ketika dia harus bertemu wanita yang membesarkan kekasihnya.
Dan masih harus bertemu secara sembunyi-sembunyi. Entah sampai kapan.
"Mau kemana? Ayo aku antar."
"Ndit?"
"Aku nggak mau ketemu ibumu lagi."
Dera diam, Andita masih berjalan sampai Dera mencengkeram tangan Andita, kasar.
"Kamu sadar kan? Dia nggak menyukaiku!"
PLAKKKK.
dan pipi Andita memerah. lalu basah. air mata.
dan saat Andita mencoba lari untuk yang kedua kalinya, Dera tak lagi mencegahnya.
* * *
Bukan salah Andita.
Bukan salahnya kalau dia tidak pandai menanak nasi, di samping kepandaiannya memasak berbagai masakan.
Bukan salahnya kalau dia begitu cantik, dan semua orang memujinya, kecuali, aku.
Bukan salahnya kalau dia dicintai Dera.
Entah itu anak Wulan, atau pacar Dera semasa dia SMU dan aku sangat-sangat menyukainya.
Tapi itu bukan salah siapa-siapa, kalau aku sangat-sangat-sangat membenci Andita.
* * *
Lalu ketika kita benar-benar tak ingin dipertemukan dengan seseorang, tiba-tiba saja orang itu telah ada di depan matamu.
April 2010, pertengahan
"Andita?"
"Tante?"
"Siapa dia?"
"Teman kampus, Tante, kebetulan kita ada bisnis bersama, itu toko kami."
"Oh, Tante kira pacar baru kamu."
Lalu aku masih tersenyum lebar melihat Andita dengan seorang lelaki dan tak sabar sampai ke rumah untuk menceritakannya kepada Dera.
Dan gadis itu menahan sesak ketika dia harus bertemu wanita yang membesarkan kekasihnya.
Dan masih harus bertemu secara sembunyi-sembunyi. Entah sampai kapan.
Monday, November 7
pertemuan ketiga
Idul Fitri tahun 2009
"Kenalin ini anakku, Dera, calon dokter, hihi."
"Oh jadi ini anak semata wayang yang selalu kamu ceritakan, Jeng? Dia tampan sekali," Dera menjabat tangan Wulan, senyum Dera selalu manis. Selalu. Aku lebih suka melihat senyum Dera dibanding senyummu.
"Aku ingin mengenal anak gadismu, Wulan. Kau membawanya?" Wulan hampir saja menjawab ketika aku melihat gadis itu, lagi-lagi gadis itu-- Andita melambai dari kejauhan, sejenak kemudian Dera berpamitan dan meninggalkan aku.
* * *
Entah darimana rasa benci itu datang. Bukan mulai hari ini. Tapi sejak awal aku tau Dera punya seorang gadis yang selalu ditelfonnya setiap malam. Bukan pertama kali aku bertemu dengannya. Tapi sejak aku sadar, Dera begitu mencintai gadis itu. Deraku. Deraku yang kecil. Tetaplah jadi Dera yang dulu. Bergonta-ganti pacar. Tak serius. Selalu ada untukku ketika kamu sibuk dengan duniamu sendiri.
* * *
Ulang tahun 38, akhir Februari 2010
"... There is never you in his life,"
Andita menangis. Kotak yang dibawanya jatuh. Suaranya gaduh. Sekejab kemudian aku melihatnya sudah berlari.
"Ndit!"
"Jangan kejar dia, jangan kejar dia, Dera. Tolong, kasihani Mama,"
Pestanya sudah berakhir. Sudah kacau. Tapi aku sadar Dera masih disampingku.
Di sana seorang gadis masih menangis.
"Kenalin ini anakku, Dera, calon dokter, hihi."
"Oh jadi ini anak semata wayang yang selalu kamu ceritakan, Jeng? Dia tampan sekali," Dera menjabat tangan Wulan, senyum Dera selalu manis. Selalu. Aku lebih suka melihat senyum Dera dibanding senyummu.
"Aku ingin mengenal anak gadismu, Wulan. Kau membawanya?" Wulan hampir saja menjawab ketika aku melihat gadis itu, lagi-lagi gadis itu-- Andita melambai dari kejauhan, sejenak kemudian Dera berpamitan dan meninggalkan aku.
* * *
Entah darimana rasa benci itu datang. Bukan mulai hari ini. Tapi sejak awal aku tau Dera punya seorang gadis yang selalu ditelfonnya setiap malam. Bukan pertama kali aku bertemu dengannya. Tapi sejak aku sadar, Dera begitu mencintai gadis itu. Deraku. Deraku yang kecil. Tetaplah jadi Dera yang dulu. Bergonta-ganti pacar. Tak serius. Selalu ada untukku ketika kamu sibuk dengan duniamu sendiri.
* * *
Ulang tahun 38, akhir Februari 2010
"... There is never you in his life,"
Andita menangis. Kotak yang dibawanya jatuh. Suaranya gaduh. Sekejab kemudian aku melihatnya sudah berlari.
"Ndit!"
"Jangan kejar dia, jangan kejar dia, Dera. Tolong, kasihani Mama,"
Pestanya sudah berakhir. Sudah kacau. Tapi aku sadar Dera masih disampingku.
Di sana seorang gadis masih menangis.
Tuesday, November 1
pertemuan kedua
siang hari, di sebuah Mall
"Dera cerita banyak tentang Tante, Dera bilang Tante adalah Ibu paling hebat sedunia," Andita berbicara dengan mata berbinar, bibirnya penuh mayonnaise. Saya tak suka melihatnya.
"Oh ya? Dia nggak pernah berbicara tentang kamu..." kataku santai. Dia tersedak. "Kecuali betapa cantik dan pintarnya kamu," lanjutku, dengan senyum dipaksakan. Lagi-lagi dia tersenyum, lesung pipitnya terlihat jelas. Ya ya ya, sok imut, aku masih membatin ketika Dera muncul dari kejauhan. Mencium kening Andita, persis di depan mataku.
* * *
21 tahun yang lalu, saya 17 tahun
"Istri anda mengalami Eklampsia, Pak," kata Dokter itu kepadamu. Kamu meneteskan air matamu, pertama kalinya saya melihatmu menangis.
"Selamatkan keduanya, bisa kan? Saya bayar berapapun!" katamu, sesenggukan. Matamu masih menatap kakiku, yang membengkak tak senormal wanita hamil lainnya. Mataku berkunang-kunang, kata mereka aku habis kejang-kejang.
"Tekanan darahnya 200/110 mmHg, Dok,"
Kamu masih meracau. Sementara cairan merah dan hangat masih terus keluar dari rahimku. Lalu gelap.
I risked my whole life, bet for you. Better I'm dead before I give you birth and know everything's okay. I love you.
"Dera cerita banyak tentang Tante, Dera bilang Tante adalah Ibu paling hebat sedunia," Andita berbicara dengan mata berbinar, bibirnya penuh mayonnaise. Saya tak suka melihatnya.
"Oh ya? Dia nggak pernah berbicara tentang kamu..." kataku santai. Dia tersedak. "Kecuali betapa cantik dan pintarnya kamu," lanjutku, dengan senyum dipaksakan. Lagi-lagi dia tersenyum, lesung pipitnya terlihat jelas. Ya ya ya, sok imut, aku masih membatin ketika Dera muncul dari kejauhan. Mencium kening Andita, persis di depan mataku.
* * *
21 tahun yang lalu, saya 17 tahun
"Istri anda mengalami Eklampsia, Pak," kata Dokter itu kepadamu. Kamu meneteskan air matamu, pertama kalinya saya melihatmu menangis.
"Selamatkan keduanya, bisa kan? Saya bayar berapapun!" katamu, sesenggukan. Matamu masih menatap kakiku, yang membengkak tak senormal wanita hamil lainnya. Mataku berkunang-kunang, kata mereka aku habis kejang-kejang.
"Tekanan darahnya 200/110 mmHg, Dok,"
Kamu masih meracau. Sementara cairan merah dan hangat masih terus keluar dari rahimku. Lalu gelap.
I risked my whole life, bet for you. Better I'm dead before I give you birth and know everything's okay. I love you.
Monday, October 31
pertemuan pertama
Malam hari, usai makan malam
"Kamu mau dia seperti kita dulu, iya, Mas? Gadis itu bisa saja menggoda Dera!"
Kamu mendongak, melempar bukumu ke meja, agak kasar.
"Kamu sadar nggak sih kamu terlalu mendominasi?"
Kami pun terdiam.
* * *
Sorenya
I love you Baby I do, I never found someone like you
"Ndit, udah siap? Aku jemput sekarang ya. Aku nggak sabar nemuin kamu dengan orangtuaku."
30 menit kemudian mobil Dera meluncur membawa Andita kerumahnya.
* * *
22 tahun yang lalu, saya 16 tahun
"Aku positif, Mas."
Kamu terkejut, bahkan kamu tersedak asap rokokmu sendiri.
"Aku akan bertanggung jawab," katamu santai, beberapa detik setelahnya, sambil meminum kopi terakhirmu.
Yes I love you so much so that I want the best for you, my son.
"Kamu mau dia seperti kita dulu, iya, Mas? Gadis itu bisa saja menggoda Dera!"
Kamu mendongak, melempar bukumu ke meja, agak kasar.
"Kamu sadar nggak sih kamu terlalu mendominasi?"
Kami pun terdiam.
* * *
Sorenya
I love you Baby I do, I never found someone like you
"Ndit, udah siap? Aku jemput sekarang ya. Aku nggak sabar nemuin kamu dengan orangtuaku."
30 menit kemudian mobil Dera meluncur membawa Andita kerumahnya.
* * *
22 tahun yang lalu, saya 16 tahun
"Aku positif, Mas."
Kamu terkejut, bahkan kamu tersedak asap rokokmu sendiri.
"Aku akan bertanggung jawab," katamu santai, beberapa detik setelahnya, sambil meminum kopi terakhirmu.
Yes I love you so much so that I want the best for you, my son.
Subscribe to:
Posts (Atom)