Friday, November 18

pertemuan kelima

7 tahun yang lalu, saya 31 tahun
"Mama, kenapa Dera nggak boleh pergi? Dera ingin pergi. Ingin pergi sejak dua tahun yang lalu."
Aku tersentak, Dera kecilku kelas 3 SMP. Sejak dia balita aku sadar suatu saat akan ada masa-masa dimana dia akan menolak, menentang, membangkang.
"Dera sakit, Dera nggak boleh capek. Nanti kalau sudah besar Dera harus jadi dokter." Lalu aku memeluknya dan menyadari dia sedang menangis.
"Dera sayang Mama."

* * *

Pertengahan 2009
"Tadi siang Dera ke kantor..." Aku menoleh, berhenti membaca novel yang sedang kubaca. Kamu menghembuskan asap rokokmu, panjang. Aku mendengus.
"Lalu?"
"Dera membawa seorang gadis, cantik..."
Kamu diam sejenak, aku tak bicara. Tapi kamu tahu aku melotot. "Dera bilang sudah berpacaran satu tahun dengan gadis itu..."


* * *

Oktober 2010, di sebuah restoran masakan Jepang
"Mama, Dera ingin mama bertemu seseorang." Dera memelukku dari belakang.  Aku menoleh.
"An-ndi-ta?" kataku terbata-bata.
Gadis itu hanya diam, berdiri. Aku melihatnya mengenakan gaun panjang merah muda bermotif bunga dengan bolero putih berlengan panjang. Kuakui dia cantik. Dan tidak terbuka seperti awal-awal aku bertemu dengannya. Tapi melihatnya hanya membuat aku ingin muntah. Glek!
"Iya, Ma. Dera ingin Mama tahu Dera nggak pernah berpisah dengan Andita. Akhir tahun ini Dera ingin Mama dan Papa melamar Andita."
Rasanya duniaku runtuh saat itu juga.

Lalu membesarkanmu 21 tahun, mempertaruhkan hidupku dan semuanyapun berakhir hari ini.

No comments:

Post a Comment